Daun Yang Jatuh


   
   Bila merenungkan bagaimana perjalanan hidup ini. Jalan hidup ini saya sebut sebagai perjalanan ikhlas, ketika keputusan telah diambil Sang Maha Pengatur Hidup. Usaha dan doa yang beriring hanyalah sebagai pelengkap tugas Hambanya. Kita diatur dalam mozaik puzzle yang kita pilih. Terkadang tawa, terkadang tangis. Semua adalah tanda bahwa kita masih hidup. Di bawah genggaman Sang Maha Pengatur Hidup semua bermakna baik. Hanya di mata manusia penilaian baik dan buruk itu berlaku. Layaknya daun, saat telah usai menghijau harus rela diterbangkan angin. Menuju tempat selanjutnya yang jelas lebih pantas. Jatuh mengurai diri dengan tanah untuk menyuburkan. Angin hanya menjalankan titah Sang Maha Pengatur Hidup, tak lebih. Walau daun akan retak berdarah karena hempasan angin yang menghampirinya. 

   Perjalanan ikhlas adalah jalan yang berujung hingga tugas kita sebagai pengelola  bumi dan sebagai hamba-Nya telah tuntas. Dengan segala kekurangan yang terlingkar dalam tingkah laku selama ini. Daun pun akan terhempas jatuh bila tugasnya telah tuntas. Sang Maha Pengatur lebih memahami kapasitas dan kemampuan kita. Hanya ikhlas menjalani proses yang menjadikan kita menjadi luar biasa dalam perjalanan hidup ini. Tanpa ikhlas, proses ini akan kering tanpa makna. Letih..? Tentu. Karena kebaikan yang kita terima sebanding dengan keletihan kita. Tanpa tahu rasa letih, tak bermakna nikmat istirahat. Dan hidup kita adalah keletihan untuk istirahat panjang di jannah (Surga). Bila hidup kita istirahat, jelas sudah keletihan di Nar (Neraka) (na’uzubillah).

   Setiap diri kita memiliki jalan hidup masing-masing yang akan dipertanggungjawabkan pada Sang Maha Pemberi Hidup. Kita hanya bisa memilih pilihan terbaik. Jalani dengan ikhlas. Bukan angin yang kita persalahkan, tetapi kita yang masih kurang tepat memilih. Jika apa yang kita inginkan belum terpenuhi, itu hanya tertunda. Sang Maha Pengatur Hidup lebih tahu saat yang tepat memberi keindahan yang dinantikan bagi hambanya. Hanya mungkin kita yang masih kurang sedikit bersabar.

   Mengikhlaskan adalah satu-satunya jalan untuk menjadi lebih kuat. Belajar dari kesalahan untuk melompat lebih tinggi dan terus mengejar matahari impian. Keajaiban itu diupayakan dengan segenap keikhlas-an didalam kalbu, ketika usaha dan momentum bertumbukan maka keajaiban pun tercipta, bukannya sekedar dinanti tanpa ujung. 

   Memperhatikan kasih sayang Sang Maha Pemberi Hidup dalam tiap nafas kita. Yaitu meyakini bahwa semua yang terjadi adalah cara komunikasi-Nya agar kita menyadari keberadaan-Nya. Tangis air mata tak akan menjadikan alasan berhenti bermimpi. Kita pantas untuk kebaikan yang sudah diatur-Nya. Terus berani bermimpi dan mewujudkannya, hingga langkah kita terhenti saat detik tak mampu lagi berjalan bersama. 
Kuatkanlah langkah demi mimpi. 

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin
(Kalimat ini dikutip dari anonymous, dipopulerkan dalam film Jepang “Zatoichi”)

0 Response to "Daun Yang Jatuh"

Post a Comment