Jalan Lengang Ke Surga


  
  Tiba-tiba termenung dalam keadaan jalan yang lenggang pagi hari ini. Teringat saat menjemput adekku beberapa waktu yang lalu dari kuliah di kampus yang berada disudut sisi kota gudeg. Saat membonceng adekku sempat berstatement bahwa dia merasa risih dan bingung serta tidak habis pikir dengan keadaan dunia mode saat ini. Dia menyampaikan begini, “A, aneh sekali ya rasanya melihat toko yang memajang pakaian wanita yang hampir mirip seperti pakaian renang itu, dijual dan ternyata ada aja pembelinya.. laku keras lagi.. Hmm.. ga’ habis pikir jadinya..?!?”. Saya hanya tersenyum mendengar statement yang dilontarkan adekku itu. saya katakan itu adalah salah satu sudut pandang yang luar biasa menurutku pribadi.
   
   Saya pun langsung mengeluarkan beberapa feedback. “Beginilah bangsa kita, dikatakan sebagai Negara Islam terbesar di dunia namun perilaku masyarakatnya belum sepenuhnya mengamalkan serta mencerminkan ajaran Agama Islam itu sendiri. Terlalu mendewakan hal yang fana, semakin kita teguk maka semakin dahagalah dirasakan.”

   Terlepas dari statement itu semua yang ada diatas, saya mau membawa pembaca kembali kedalam renunganku yang selanjutnya. Yaitu tentang “Jalan Lengang ke Surga”. Agak aneh mungkin mengapa saya mengatakan demikian, betapa menjadi sebuah analogi yang sangat menarik antara adekku dengan ide yang saya lontarkan dengan tiba-tiba pada saat itu. Setelah selesai melaksanakan shalat subuh beberapa waktu lalu saya  menyampaikan sebuah ide penawaran kepada adekku yaitu, “Ian, klo aa kasih setiap hari 10rb kekamu mau ga’..? Syaratnya mudah ko’.. Kamu cukup Shalat subuh Jama’ah setiap hari di masjid. Gimana ? Mau ga’//??”. Dengan penuh kebimbangan dan ragu-ragu serta sambil berpikir beberapa detik adekku sambil cengengesan menjawab. “Mmm.. berarti secara tidak langsung harga diri keimananku Cuma seharga 10rb dunk.. ah, ga’ maulah..”. Aku pun tersenyum mendengarnya. “Hehe..

   Rekan-rekan pembaca, dari obrolan saya dengan adekku diatas saya hanya ingin menyampaikan rasa yang saya rasakan. Betapa kalian tahu, bagaimana legangnya jalan menuju surga itu. Ya, rekan-rekan bisa merasakannya sendiri ketika anda bangun pada pagi hari dan berjalanlah menuju masjid didekat tempat tinggal anda. Apa yang anda lihat dan rasakan? Pasti jawabannya adalah Sepi, Senyap, Sejuk, Nyaman, dan Lenggang. Begitulah yang saya rasakan.

   Jika ingin disatukan kembali antara Statement Mode wanita di Indonesia yang lebih menggungkan fashion dunia barat daripada Hijab bagi Muslimah yang sudah benar-benar Wajib diperintahkan Allah SWT dalam Firma-Nya dengan Shalat Subuh berjamaah ini adalah satu kesatuan yang seharusnya kita renungkan dan berpikir lebih dalam. Bagaimana bisa dengan logika sederhana bahwa Negara Indonesia yang saat ini adalah sebagai Negara ISLAM yang terbesar dimuka Bumi ini, namun untuk hal-hal yang dikatakan itu adalah suatu kewajiban yang  seharusnya dilaksanakan dalam bentuk ibadah yang harusnya dijalani dengan kesadaran serta kedewasaan yang bijaksana sebagai hamba Allah, itu belumlah dapat dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Kalau saya katakan ini baru bentuk sederhana dari bentuk ritual ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada kita sebagai Umat Islam. Dan hal ini saya hanya baru menyoroti tentang Hijab dan Shalat Subuh saja. Belum yang lain-lainnya. Hmm…

Coba rekan-rekan cermati hadis shahih berikut ini:

Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh (berjama’ah di mesjid). Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651)

“Dua rakaat shalat Subuh, lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (H.R. Muslim)

   Dalam 2 hadist shahih itu sudah jelas tentang bagaimana shalat subuh berjamaah itu sangat luar biasa nilainya dari pada dunia dan seisinya, apalagi jika dibandingkan dengan Uang senilai Rp 10.000,-. Pada hadits ini juga disebutkan “Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak”. Saking besarnya keutamaan shalat subuh berjama’ah di mesjid sampai-sampai Rasulullah mengilustrasikan bahwa bagi orang yang tahu keutamaan shalat subuh berjama’ah di mesjid mereka pasti akan mendatanginya, meskipun dengan cara merangkak.

   Manusia kebanyakan saat ini hanya akan tergerak jika mereka melihat sebuah nilai yang dapat dilihat secara nyata, seperti harta yang berupa uang, emas, tahta serta kekayaan lainnya. Memang itu adalah fitrah sebagai manusia normal begitu adanya. Namun jika sebuah janji Allah yang sudah dijelaskan dengan hadis shahih diatas tadi, seharusnya sebagai manusia berakal akan mampu mana yang harus digapai dan dicari secara sungguh-sungguh dengan yang tidak.

   Saya juga dulu pernah mendengar dari salah satu Ustadz pada ceramahnya yang beliau sampaikan dalam khotbah jum’at yang berbunyi seperti ini kurang lebihnya, “Jadi, orang-orang yahudi pun memperhatikan kita sebagai umat Islam dalam Shalatnya, khususnya shalat wajib 5 waktu. Dan para kaum zionis yahudi akan merasa khawatir sekali jika shalat subuh yang dilaksankan umat Islam yang ada di Indonesia itu jamaahnya sebanyak seperti pada shalat jum’at saat ini. Namun, jika melihat kenyataannya saat ini, para zionis yahudi tidak perlu khawatir dengan keadaan tersebut. Karena para jamaah shalat subuhnya hanya paling banyak 2 shaf jika dirata-rata. Itupun kebanyak orang-orang tua atau simbah-simbah yang mengisi shaf tersebut.” Hmm.. bisa dibayangkan sendiri para rekan-rekan pembaca sekalian. Sungguh sangat memprihatinkan dan ironis sekali. Karena para pemuda-pemuda Islam di Indonesia telah banyak terpana dan terhasud oleh trik dan akal licik para yahudi zionis ini yang dengan diam-diam telah mengkebiri semua itu dengan media-media dan hiburan yang membuat menuju arah dalam hura-hura, hedonis, apatis serta terlelap pada kesenangan yang semu.

   Perlu rekan-rekan ketahui, dulu Negara Islam terbesar didunia adalah Negara Pakistan. Anda tahu apa yang telah terjadi disana,,?? Sekarang Negara tersebut tak lebih dari hanya sebuah Negara yang tak bernyawa, terombang-ambing tidak jelas tanpa arah. Apakah Indonesia akan seperti itu?

Jadi sederhannya begini, jika rekan-rekan mau saya bayar setiap hari dengan Uang sebesar Rp 10.000,- dengan syarat yang sangat mudah. Yaitu rekan-rekan hanya cukup shalat subuh berjamaah dimasjid setiap pagi hari. Hal ini berlaku bagi setiap manusia yang menyatakan dirinya beragama Islam. Coba anda-anda Hitung dengan sederhana. Jika setiap hari anda saya bayar sebesar Rp 10.000,- dikalikan dalam 1 tahun (365 hari), lumayankan buat tambahan uang saku.. :D Mau..?

   Oh ya, jadi teringat pesan yang pernah disampaikan oleh sahabat saya, kurang lebih seperti ini dia berpesan pada saya, “Jadi, jika kita mau bekerja sama dengan orang lain, apalagi jika itu dalam hal bisnis, maka untuk kita yakin orang itu dapat dipercaya atau tidak, lihatlah ibadahnya yaitu apakah dia Istiqamah melaksanakan shalat jamaah subuh dimasjid atau tidak? Jika dia selalu istiqamah Shalat subuh jamaah dimasjid, Insya Allah orang itu bisa dapat dipercaya dan memiliki komitmen yang tinggi dalam menjalani usahanya.” Jadi, betapa sangat bermanfaatnya jika kita mengamalkan ibadah Shalat Subuh jamaah di Masjid tersebut. Karena Insya Allah dengan kita selalu istiqamah dalam melaksanakannya maka untuk shalat-shalat yang lain akan terasa lebih ringan untuk dilaksanakan dan berat untuk ditinggalkannya.

   Saya rasa rekan-rekan sekalian sudah paham dengan apa yang sebenar menjadi arah tulisan saya ini, disini penulis bermaksud saling mengingatkan dan berbagi kegelisahan tanpa ada unsur ingin menggurui atau memaksakan. Saya pun sedang berusaha istiqamah dalam melaksanakan hal ini. Maka Keutamaan Shalat Subuh sebenarnya tidak cukup hanya diungkapkan dengan kata-kata atau pena, walau sefasih apapun pengungkapnya, kecuali hanya dengan firman sang pencipta alam jagat raya ini Allah SWT.

Demikianlah, Wa Allah A'lam.

0 Response to "Jalan Lengang Ke Surga"

Post a Comment